Tampilkan postingan dengan label PP.Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PP.Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Tampilkan semua postingan

» Orkes dan Samroh

Masalah

Bagaimana hukumnya orkes dan samroh yang dipentaskan dimuka umum oleh kaum perempuan atau laki-laki dengan menampilkan cerita Nabi-nabi atau menari-nari?


Jawab:

Hukumnya haram. Adapun samroh dan orkes, yang pementasannya dan menari didalamnya tidak terdapat mungkarat, maka hukumnya mubah. Sedangkan mungkarat yang dimaksud diantaranya:

آلة اللهو الممنوعة والمتخنثين من الرجال والمترجلات من النساء والإهانة للنبي والرسول.

Artinya:

Alat musik yang dilarang, orang laki-laki bergaya perempuan atau sebaliknya dan merendahkan martabat Nabi.

Dasar Pengambilan Dalil:

1. Al-Fiqhu ala Madzahibi Al-Arbaah, juz IV, hal. 9

والمختار أن ضرب الدفّ والأغانى التى ليس فيها ماينافى الآداب جائز بلاكراهة مالم يشتمل كل ذلك على مفاسد كتبرّج النساء الأجنبيات في العرس وتهتكهن أمام الرجال والعريس ونحو ذلك والاّ حرم

Artinya:

Menurut qoul yang muhtar (terpilih) sesungguhnya memukul rebana melantunkan lagu-lagu yang tidak sampai meniadakan adab-adab adalah boleh, tidak makruh, selama tidak mengandung mafasid (kerusakan) seperti penampilan perempuan (mejeng) dihadapan laki-laki, dalam resepsi pernikahan dan memukaunya perempuan dihadapan laki-laki, resepsi pernikahan dan sesamanya, kalau tidak berarti haram.

2. Mirqotu Shu'ud al-Tashdiiq (syarah sulamun At-Taufiq) hal. 73

ومن معاصى الرجل ( التبختر فى المشي ) كالتمايل أو تحريك اليدين على غير هيئة معتدلة أو نحو ذلك.

Artinya:

Termasuk maksiatnya kaki adalah ( sombong dalam berjalan) seperti lenggak-lenggok, atau menggerak-gerakkan tangan pada selain kondisi kebiasaan (kesederhanaan) atau sesamanya.

3. Isadu Al-Rofiq, I : 55

أتى بما يعد نقصا فى نفس رسول الله صلى الله عليه وسلم او نبي من الأنبياء المجمع عليهم حلقا وخلقا او فى نسبه كان يقول إنه عليه الصلاة والسلام ليس من قريش او فى صفة من صفاته.

Artinya:


Mendatangkan sesuatu yang dapat mengurangi (merendahkan) martabat Nabi Muhammad Saw. Atau salah satu dari Nabi yang telah disepakati oleh ulama, tentang kenabiannya, seperti menghina tubuh, akhlaq atau Nasabnya, seperti mengatakan sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. Bukan keturunan Quraisy, atau menghina dalam agama atau sifat_Nya. (semua hukumnya haram).

4. Al Fatawi al Kubro, I : 203
5. Sulamu at-taufiq, hal: 13

» Mengambil Air

Masalah

Pada saat ini banyak kegiatan arisan uang atau barang. Dalam perkembangannya terjadi suatau cara sebagai berikut

A, B, dan C berarisan, A mendapat giliran menerima arisan tetapi ridlo haknya diterima oleh B yang juga anggota arisan, namun belum menerima arisan/giliran. Penyerahan hak secara suka rela dibarengi ganti rugi semacam jual beli hak, umpamanya :

Arisan sepeda motor memberi ganti rugi sebanyak Rp.15.000,- atau Rp. 25.000,-

Arisan uang sebesar Rp. 100.000,- memberi ganti rugi sebanyak Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 15.000,- sedangkan B masih punya hak giliran di lain waktu.


Pertanyaan :

Bernama aqad apakah pergantian semacam ini?

Jawab :

Ala sabili al ihtiyat (menurut pendapat yang berhati-hati) aqad semacam itu termasuk aqad Qardlu jarro Nafan (hutang dengan menarik keuntungan) yang hukumnya tidak boleh (haram) kecuali jika tidak ada janji dalam aqad (Fu al-sulbi al-aqdi). Boleh dengan nama baiul Istihqoq.


Dasar pengambilan :


Bughyatu Al-Mustarsyidin hal, 135

إِذِ اْلقَرْضُ الفَاسِدُ المُحَرَّمُ هُوَ اْلقَرْضُ المَْشْرُوْطُ فِيْهِ النَّفْعُ لِلْمُقْرِضِ، هَذَا اِنْ وَقَعَ فِي صُلْبِ العقد، فان تواطأ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لخير غرض شرعي.

Artinya:

Aqad utang piutang yang fasid (rusak) dan haram ialah menghutangi dengan janji pihak yang menghutangi mendapat keuntungan hal ini (haram) bila syarat tersebut masuk (ikut) dalam isi transaksi, jika syarat mendapat keuntungan itu berketepatan pada waktu sebelum terjadi transaksi dan waktu transaksi tidak menyebut-nyebut janji keuntungan bagi yang menghutangi, atau sama sekali tidak ada transaksi, maka hukumnya boleh disertai makruh sperti makruhnya segala rekayasa riba yang terjadi bagi selain tujuan syara.

2. Ianatu Al Tholibin, juz III, hal. 20

ومنه ربا القرض) أي ومن ربا الفضل: ربا القرض، وهو كل قرض جر نفعا للمقرض غير) نحو رهن. لكن لا يحرم عندنا إلا إذا شرط في عقده

Artinya:

( Diantaranya ialah riba qordi ) artinya: termasuk bagian dair riba fadli ialah qordli, yaitu setiap menghutangi yang mengambil untung/ manfaat bagi yang menghutangi, selain aqad gadai dan sesamanya haram, hal itu tidak haram menurut kita, kecuali jika keuntungan itu di ucapkan/di isyaratkan pada waktu transaksi (maka hukumnya haram).

3. Al-Bajuri, juz I hal. 357

لم يكن هناك عقد كمالو باع معاطاة وهو الواقع في أيامنا لم يكن ربا وإن كان حراما لكن أقل من حرمة الربا. اهـ

Artinya:

Jika disana (dalam syarat) tidak terjadi aqad (transaksi) seperti pada waktu jual beli dengan muathoh ( memberikan tanpa bicara), seperti yang terjadi saat ini, itu bukan riba, jika terjadi keharaman maka lebih sedikit dari pada keharaman riba.

4. Fatawi al Kubro li ibni Hajar, juz III, hal. 23

والذي صرّح به الأصحاب أن كل ما أبطل شرطه العقد لا يضرّ إضمار نية فيه، وذكر صاحب الكافى أنه مع ذلك الإضمار هل يحلّ باطنا؟ وجهان قال : وأصحهما عندي يحل لحديث عامل خيبر.

Artinya:

Sesuatu yang telah dijelaskan oleh santrinya imam syafiI : apabila sesuatu syarat yang dapat membatalkan aqad (transaksi) itu tidak masalah, jika hanya tersimpan dalam hati (tidak masuk aqad) shohibu al-kafi menjelaskan jika hal itu terjadi ( menyembunyikan syarat dalam hati) apakah transaksinya secara batin dianggap halal? Ada dua pendapat, menurutku yang paling shohih adalah halal dengan dasar hadits tentang pengelola tanah (Nabi) di Khoibar.